Ternyata Tak Hanya Aksi Dugaan Pelecehan Seksual Brigadir J ke Putri Candrawathi, Pantas Sambo Nangis?

- 22 September 2022, 10:37 WIB
Ternyata Tak Hanya Aksi Pegang Paha, Ada 'Jilatan Maut' Brigadir J ke Putri Candrawathi, Pantas Sambo Nangis
Ternyata Tak Hanya Aksi Pegang Paha, Ada 'Jilatan Maut' Brigadir J ke Putri Candrawathi, Pantas Sambo Nangis /Foto FB Rekson Pasaribu/edit Teras Gorontalo/

TERAS GORONTALO - Peristiwa Magelang diduga menjadi pemicu yang membuat Ferdy Sambo memutuskan untuk melakukan tindakan yang berujung tewasnya Brigadir J sang ajudan di rumah dinasnya Duren Tiga.

Adapun yang ada pada saat kejadian di Magelang terdapat lima orang yang diantaranya Brigadir J, Putri Candrawathi, Kuat Maruf, Bharada E dan Susi, sementara Ferdy Sambo tak berada ditempat.

Sebagaimana diketahui hal terkait pelecehan itulah yang dilaporkan oleh Istri Ferdy Sambo Putri Candrawati kepada suaminya tersebut yang berujung tewasnya Brigadir J.

Baca Juga: Jadwal dan Prediksi Turki vs Luksemburg di UEFA Nations League, Cek Link Live Streaming dan Siaran Langsung

Di awal kasus ini diketahui bahwa dilaporkan terkait pelecehan di Duren Tiga, namun hal tersebut tak terbukti dan dihentikan.

Dikutip dari Vox Timor, sebelumnya, Direktur Tindak Pidana Umum Bareskrim Polri, Brigjen Andi Rian Djajadi, secara resmi menghentikan laporan awal dugaan pelecehan seksual Putri Candrawathi di Duren Tiga.

Laporan tersebut dihentikan setelah Polri melakukan gelar perkara dan tidak menemukan bukti.

Terkait isi laporan tersebut Johnson Panjaitan mengatakan "Dan dengan tegas Polri menyatakan tidak ada tindak pidananya," kata Panjaitan dalam acara ILC.

Namun yang menarik menurutnya yang ini tak ada pelaporan tiba-tiba muncul direkonstruksi di magelang, gak ada pelaporan tiba tiba muncul.

Setelahnya lokus berpindah ke magelang dikutip dari Antara, Sebelumnya Komnas HAM menemukan adanya dugaan kekerasan seksual yang dilakukan almarhum Brigadir Nofriansyah Yosua Hutabarat atau Brigadir J terhadap istri eks Kadiv Propam Polri Ferdy Sambo yakni Putri Candrawathi.

Baca Juga: Akhirnya IPW Ungkap Alasan Sebenarnya Putri Candrawathi Tak Ditahan, Sambo Masih Pegang Ini

Dari laporan hasil pemantauan dan penyelidikan Komnas HAM, dugaan kekerasan seksual terjadi di Magelang pada Kamis 7 Juli 2022. Peristiwa tersebut terjadi setelah Putri merayakan hari ulang tahun pernikahan sekitar pukul 00.00 WIB.

"Pada tanggal yang sama terdapat dugaan kekerasan seksual yang dilakukan oleh Brigadir J terhadap saudari PC dimana saudara FS pada saat yang sama tidak berada di Magelang," ujar Komisioner Komnas HAM Mohammad Choirul Anam.

Hubungan antara Putri Candrawathi dan Brigadir J saat di Magelang semakin mencuat setelah Komnas HAM mengungkapkan dalam salah satu rekomendasi yang mengatakan bahwa ada dugaan terjadi pelecehan seksual di Magelang.

Dilansir dari Portal Nganjuk dengan judul 'Perbuatan Terlarang Ajudan ke Nyonya Sambo Terkuak, Adegan Paha Putri Candrawathi dan Brigadir J Mencuat'. Susi ternyata mendengar dan melihat kejadian di lantai dua.

Dilansir dari YouTube Uncle Wira, tangisan Susi ternyata berkaitan dengan apa yang dilihatnya di lantai dua tepatnya di kamar Putri Candrawathi.

Baca Juga: Percaya Diri Lolos dari Hukuman Kasus Kematian Brigadir J, Sosok Bekingan Ferdy Sambo Terungkap

Susi ternyata melihat jika ada seseorang yang masuk ke kamar Putri Candrawathi.

Bahkan, sosok tersebut keluar dengan baju acak-acakan.

Sosok yang dimaksud Susi adalah Brigadir J yang tak lain adalah ajudan Ferdy Sambo.

Hal yang sama juga diutarakan oleh Kuat Ma'ruf alias Om Kuat.

Ia juga melihat Brigadir J tampak naik dan turun dari arah kamar Putri Candrawathi.

Om Kuat juga melihat Brigadir J keluar dari kamar Putri Candrawathi dengan kemeja acak-acakan.

Setelah keluar dari kamar Putri Candrawathi, Brigadir J kemudian pergi ke lantai satu.

Om Kuat lalu mengambil pisau dapur dan menghadang Brigadir J yang coba kembali naik ke lantai dua kamar Putri Candrawathi.

Tapi sepertinya Brigadir J tidak melakukan pelecehan seksual.

Namun diduga ada skandal terlarang antara Putri Candrawathi dan Brigadir J sang ajudannya.

Aksi Pegang Paha dan Alat Vital

Sampai hari ini kasus pembunuhan Brigadir J masih jadi isu hangat.

Tak sedikit isu yang beredar tentang fakta yang beredar di media sosial terkait kasus kematian ajudan Ferdy Sambo ini.

Hingga saat ini sudah ada lima tersangka yang ditetapkan oleh Bareskrim Polri dalam kasus Brigadir J.

Mulai dari Ferdy Sambo, Bripka RR, Putri Candrawathi, Kuat Ma'ruf alias Om Kuat, dan Bharada E.

Akan tetapi dalam kasus ini, Putri Candrawathi sampai hari ini masih bersikeras bahwa Brigadir J melecehkan dirinya.

Baca Juga: Bharada E Miliki 3 Bukti Video Putri Candrawathi dan Om Kuat, Motif Pembunuhan Brigadir J Terungkap

Bahkan dalam BAP Putri Candrawathi yang bocor ke publik, ia menyebutkan jika Brigadir J sempat meraba paha dan bagian vitalnya.

Tak hanya itu Putri Candrawathi juga mengaku jika dirinya dibanting oleh Brigadir J.

Sementara itu, Om Kuat menjadi sosok pelindung bagi Putri Candrawathi.

Pasalnya ia dengan penuh emosi menjadi penjaga tangga bagi Putri Candrawathi.

Om Kuat bahkan sempat mengancam akan membunuh Brigadir J dengan pisau.

Keterangan Bripka RR

Seperti diketahui Bripka RR atau Ricky Rizal merupakan salah satu tersangka dalam kasus yang menewaskan Brigadir J.

Bripka RR menjadi tersangka ketika diduga turut ikut serta dalam skenario yang dibuat Ferdy Sambo.

Belakangan ini Bripka RR sudah berani buka suara terkait peristiwa sebenarnya yang terjadi yang melibatkan mantan atasannya Ferdy Sambo.

Hal ini disampaikan langsung kuasa hukum Bripka RR, Erman Umar saat ditemui di bareskrim Polri.

Dikutip dari Berita Subang, Erman Umar mengungkapkan, kliennya secara tegas yang menolak perintah atasannya Ferdy Sambo untuk menembak Yosua Hutabarat atau Brigadir J.

Namun demikian, Bripka RR mengetahui bahwa Kuat Ma'ruf dan Brigadir J memang bertengkar saat di Magelang.

Pada mulanya Erman Umar menyatakan jika Bripka RR dipanggil Ferdy Sambo untuk menanyakan tentang apa yang terjadi terhadap isterinya Putri Candrawathi di Magelang.

Menurut pengakuan Bripka RR ke Erman Umar, saat itu Bripka RR mengaku tidak mengetahui apa-apa yang terjadi antara Putri dan Brigadir J.

Menurutnya Bripka RR menjawab sambil menangis dan emosi.

"Dipanggil, dia tanya, ‘ada kejadian apa di Magelang? Kamu tahu enggak?. Enggak tahu’. Ini Ibu dilecehkan,’. Dan itu sambil nangis dan emosi," ucapnya saat ditemui di Bareskrim Polri, Jakarta Jumat 9 September 2022.

Setelah itu, Bripka RR kembali ditanya oleh Ferdy Sambo, saat itu Putri Candrawathi berada di dalam ruangan yang sama. Ia menjelaskan saat itu pengakuan Putri Candrawarthi dia dilecehkan oleh Brigadir J.

Kemudian Bripka RR ditanyai Ferdy Sambo tentang kesanggupannya untuk menembak Brigadir J. Namun dirinya menolak lantaran tak kuat mental dan dari situlah diminta memanggil Bharada E.

Menurutnya Bripka RR tak kuat mental.

"Kamu berani nembak? Nembak Yosua? Dia bilang saya enggak berani Pak, saya enggak kuat mental, enggak berani, Pak. Ya sudah kalau begitu kamu panggil Richard’,” jelas Erman sambil menirukan bicara Bripka RR dan Ferdy Sambo.

"'Saya melihat bapak menangis. Enggak biasa begitu kan. Tapi saya enggak tahu kejadian di sana'," lanjutnya.

Kemudian Bharada E mengungkap fakta menjelang eksekusi Brigadir J di rumah dinas Ferdy Sambo di Duren Tiga, Pancoran, Jakarta Selatan pada 8 Agustus 2022.

Susi Dengar Rintihan Putri Candrawathi

Terkait dugaan adanya pelecehan ini, keterangan Susi yang merupakan asisten rumah tangga (art) Ferdy Sambo menjadi salah satu kunci dalam mengungkap kebenaran terkait adanya dugaan pelecehan di Magelang.

Namun untuk menanggapi terkait laporan dugaan pelecehan di Magelang hal itu di respon oleh Komisaris Jenderal Polisi Agus Andrianto.

Dikutip dari Antara, Kepala Badan Reserse Kriminal Polri, Komisaris Jenderal Polisi Agus Andrianto, mengatakan, dugaan pelecehan seksual yang dialami Putri Candrawathi di Magelang dapat diproses apabila didukung alat bukti.

Ia menyayangkan, dugaan pelecehan tersebut tidak dilaporkan oleh Putri maupun Inspektur Jenderal Polisi Ferdy Sambo ke Polres setempat pada hari kejadian, sehingga tidak ada olah tempat kejadian perkara dan pengambilan bukti-bukti terkait kejadian itu.

“Sepanjang didukung dengan alat bukti ya kami proses. Sayangnya mereka tidak melaporkan kejadian tersebut kepada kepolisian (Polres), sehingga ada olah TKP dan pengambilan bukti-bukti terkait kejadian tersebut,” ujar dia, kepada wartawan di Jakarta, Senin.

Andrianto pernah menyampaikan, hanya Allah SWT, Candrawathi dan Almarhum Brigadir J yang tahu pasti apa yang terjadi di Magelang itu. Penyidik yang menelusuri di Magelang tidak menemukan alat bukti, bahkan tidak ada CCTV di rumah tersebut.

Putri pernah membuat laporan dugaan pelecehan seksual oleh Brigadir Nofriansyah Yosua Hutabarat atau Brigadir J ke Polres Metro Jakarta Selatan, Jumat (8/7) dengan TKP Kompleks Polri Duren Tiga. Diduga laporan itu sebagai skenario untuk mengaburkan peristiwa yang sebenarnya, yakni penembakan terhadap Brigadir J.

Laporan itu dihentikan penyidik Direktorat Tindak Pidana Umum Badan Reserse Kriminal Polri pada 12 Agustus 2022, karena tidak ditemukan peristiwa pidananya. Putri ditetapkan sebagai tersangka pembunuhan Brigadir J.

Belakangan, Komisi Nasional Hak Asasi Manusia menemukan dugaan kekerasan seksual Brigadir J kepada Candrawathi, istri Sambo.

Dari laporan hasil pemantauan dan penyelidikan Komnas HAM, dugaan kekerasan seksual terjadi di Magelang, Kamis 7 Juli 2022. Peristiwa itu terjadi setelah Chandrawati merayakan hari ulang tahun pernikahan sekitar pukul 00.00 WIB.

Merujuk pada UU Tindak Pidana Kekerasan Seksual satu alat bukti, yaitu keterangan korban dapat dilaporkan dan diproses hukum. Hal ini berbeda dengan pola pemidanaan di mana perlu dua alat bukti yang sah.

Andrianto mengakui UU TPKS sedikit menyulitkan penyidikan. Namun, ia menegaskan bahwa apapun yang dinarasikan, penyidik harus didukung dengan alat bukti yang ada. “Apapun yang dinarasikan bagi kami penyidik ya harus didukung alat bukti yang ada,” kata Andrianto.

Terkait peristiwa di Magelang, kata dia, apa yang terjadi menyangkut dengan kehormatan keluarga Sambo, sebagaimana yang disampaikan Direktorat Tindak Pidana Umum Badan Reserse Kriminal Polri, Brigadir Jenderal Polisi Andi Rian Djajadi, usai pemeriksaan Sambo sebagai tersangka, Jumat 10 Agustus, di Mako Brimob Polri.

“Naluri kami sebagai penyidik seniorlah (sudah mau pensiun) apa yang terjadi ya menyangkut kehormatan sebagaimana disampaikan oleh Dirtipidum beberapa waktu yang lalu,” ujarnya.

Data yang diperoleh penyidik, berdasarkan keterangan tersangka maupun saksi-saksi, pada saat kejadian asisten rumah tangga keluarga Sambo bernama Susi sedang berada di tangga dekat kamar Putri di Magelang. Pada saat yang sama tersangka Kuat Ma’ruf berada lantai bawah sedang merokok.

Dalam keterangannya, Kuat mengaku melihat Brigadir J mengendap-endap keluar dari kamar Putri. Sebelumnya, Susi mengaku mendengar Chandrawati diduga sedang menangis, merintih atau ekspresi lainnya.

“(Kejadian) hal ini terkomunikasi antara S (Susi) dan dan KM (Kuat Ma’ruf). KM ada di kamar untuk memastikan kondisi PC (Putri) yang ada di kamar terduduk di depan kamar mandi. Keterangan ini dikuatkan dengan keterangan Susi,” kata Andrianto.

Dikutip dari Portal Nganjuk, Hal tersebut, disampaikan dalam dugaan BAPnya Susi yang bocor.

Hanya Susi seorang yang berstatus saksi dalam pusaran kasus Brigadir J.

Melansir dari YouTube Anjas Asmara di Thailand, terdapat kabar dari sumber istimewa yang menyebutkan bahwa dugaan isi BAP Susi bocor.

Dugaan BAP Susi ART Putri Candrawathi tersebut menduga hubungan terlarang Putri Candrawathi dengan Brigadir J itu jalan 7 bulan.

Sebelumnya diketahui bahwa Bripka RR mengaku lihat Om Kuat dalam keadaan tegang dan panik.

Awalnya, Bripka RR pun mengikuti skenario Ferdy Sambo.

Dugaan BAP Susi ART Putri Candrawathi tersebut menduga hubungan terlarang Putri Candrawathi dengan Brigadir J itu jalan 7 bulan.

Sebelumnya diketahui bahwa Bripka RR mengaku lihat Om Kuat dalam keadaan tegang dan panik.

Bripka RR juga menyebutkan bahwa Susi menangis di Magelang.

Banyak spekulasi bermunculan dalam kasus jumat berdarah di rumah dinas Ferdy Sambo tersebut.

Anjas turut menuturkan dari sumber istimewah itu menduga hubungan terlarang istri Ferdy Sambo itu dengan ajudan Brigadir J.

Bahkan, dalam dugaan BAP Susi menyebutkan bahwa Putri Candrawathi dengan Brigadir J itu dari bulan Desember tahun lalu.

“Jika dihitung Desember berarti sudah 7 bulan dugaan hubungan terlarang Putri Candrawathi dengan Brigadir J," katanya dalam kanal YouTubenya, belum lama ini.

Katanya ada dugaan bocor BAP Susi ART Putri Candrawathi itu didapat dari sumber istimewah.

Dikatakan pula bahwa peristiwa di Magelang itu Ajudan Ferdy Sambo Bripka RR melihat Susi menangis atau tangisan.

Kenapa dia (Susi) menangis terus apa hubungannya dengan Brigadir J dan Putri Candrawathi.

Menurut Anjas, keterangan dari sumber istimewah ini cukup masuk akal.

“Karena terdapat beberapa hal yang kita ketahui ketika membahas reaksi Susi."

“Kok ngga masuk akal yah?, orang habis melihat majikan diduga perkosa atau pelecehan seksual yang dituduhkan pihak Putri Candrawathi," bebernya.

“Bukankah kalau terdapat adegan (dugaan pelecehan seksual) itu harusnya kita membantu menelepon Polisi atau tindakan lainnya seperti pada umumnya," sambungnya.

Lanjutnya dari sumber istimewah tersebut menduga Susi menangis lihat Putri Candrawathi dengan sosok pria, saat Ferdy Sambo pergi ke Jakarta.

Lagi-lagi, Anjas menyebutkan bahwa informasi yang didapatnya dari sumber istimewah itu bahwa BAP Susi menyebutkan Susi mengintip dan menceritakan apa yang dilihat dalam BAP Susi tersebut.

Menariknya, berdasarkan dugaan BAP Susi mengklaim hubungan terlarang Putri Candrawathi dengan Brigadir J.

“Dalam dugaan BAP itu yang diberikan sumber istimewah, dia menduga Putri Candrawathi dengan Brigadir J, punya hubungan spesial," katanya.

Serta menurut sumber istimewah itu diduga isi BAP Susi itu menyebutkan bahwa dia melihat Brigadir J dengan Putri Candrawathi di dalam kamar.

Lanjut Anjas menganalisis itu sangat masuk akal, karena menurutnya reaksi Susi ini menangis.

“Kalau dia (dugaan Susi) lihat kekerasan seksual seperti itu. Harusnya sebagai seorang perempuan dia melihat majikannya (Putri Candrawathi) dibegitukan yang ada dia emosi bahkan kalau nangis yah OK."

“Tetapi pasti sambil marah-marah dan banyak ekspresi tidak menangis doang," ungkap analisis dosen di Thailand itu.

Bahkan, menariknya lagi sumber istimewah itu menduga Putri Candrawathi dan Brigadir J punya hubungan dari bulan Desember.

Diketahui bersama Putri Candrawathi tetap masih bersikukuh dengan pelecehan seksual.

Om Kuat, Bripka RR, dan Bharada E berdasarkan tes Lie Detector hasilnya pun jujur.

Sedangkan, Putri Candrawathi, Susi dan Ferdy Sambo hasilnya Polri belum bisa umumkan.

Putri Candrawathi pun meski telah ditetapkan tersangka, belum ditahan dengan alasan kemanusian.

Jilatan Maut Brigadir J dan Putri Candrawathi Disebut Menikmati

Kini Putri Candrawathi masih menjadi sorotan publik setelah pengakuannya diperkosa oleh Brigadir J.

Diduga dalam pengakuan Putri Candrawathi itulah yang membuat Ferdy Sambo menghabisi nyawa Brigadir J.

Putri Candrawathi adalah tersangka kasus pembunuhan Brigadir J.

Hingga kini sosok Putri Candrawathi belum juga ditahan karena memiliki hak istimewa.

Bahkan istri Ferdy Sambo, Putri Candrawathi masih ngotot diperkosa oleh Brigadir J

Menurut dari keterangan Putri Candrawathi, Brigadir J masuk ke kamarnya lalu terjadilah pemerkosaan.

Namun dari pernyataan Putri Candrawathi yang mengaku dapat pelecehan seksual justru diragukan.

"Dia (Brigadir J) menjilati tangan, lalu bagian-bagian sensitif," ungkap Putri Candrawathi, dikutip dari tvOne News.

Selain itu, ada pengakuan Putri justru dinilai menunjukkan bahwa dia menikmati setiap perlakuan yang diduga dilakukan oleh Brigadir J.

Lantas benarkah hal itu yang didengar oleh Susi?

Tanggapan Lain Terkait Narasi Dugaan Kekerasan Seksual

Sementara itu, soal anggota Komisi III DPR Dipo Nusantara mengatakan, narasi dugaan kekerasan seksual dalam peristiwa pembunuhan Yosua memang sulit diterima.

Sebab, Polri jelas-jelas telah mengeluarkan surat perintah penghentian penyidikan (SP3).

Dalam berita acara pemeriksaan (BAP) konfrontasi Putri terkait dengan narasi pelecehan seksual itu.

Dalam BAP, Putri Candrawathi menceritakan kejadian di Magelang pada 7 Juli sekitar pukul 18.00 sampai 19.30.

Saat itu Yosua disebut masuk ke kamarnya. Putri menyebut dirinya sedang tidak enak badan.

Istri eks Kadivpropam Polri Irjen Pol Ferdy Sambo itu menyatakan bahwa Yoshua memaksanya untuk berdiri dan menuju pintu.

”Kemudian, Yosua membuka pintu kaca dan sambil jalan ke arah keluar pintu kaca,” ujar Putri dalam BAP.

Pada saat itu, Putri mengaku sengaja menyenggol keranjang tumpukan pakaian yang sudah disetrika.

Dirinya juga menendang-nendangkan kakinya ke pintu kaca dengan harapan ada orang yang mendengar.

”Setelah posisi saya berada di depan pintu kaca, saya tidak melihat ada orang di sekitar tangga,” ungkapnya.

Putri lantas mengatakan bahwa, Yoshua menghempaskan tubuhnya hingga terjatuh di depan pintu kamar mandi yang posisinya berhadapan dengan pintu kaca dan berada di depan pintu kamar.

”Saya terjatuh saat itu juga, terduduk menyandar ke keranjang pakaian kotor dengan posisi kaki lurus,” terangnya.

Keterangan Putri dalam BAP itu bertentangan dengan saksi lain. Salah satunya, keterangan saksi orang terdekatnya bernama Susi.

Dalam keterangannya, Susi menyebutkan bahwa dirinya melihat Yosua masuk ke kamar Putri, dan mendengar suara mendesah.

”Artinya, itu (keterangan Putri) dapat terbantahkan,” terangnya, dikutip PORTAL NGANJUK dari Voxtimor.***

 

Editor: Siti Nurjanah

Sumber: ANTARA Berita Subang Portal Nganjuk Vox Timor


Tags

Artikel Pilihan

Terkini

Terpopuler

Kabar Daerah